Proyek ini mengeksplorasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 12 PBB — memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan di Indonesia, dengan fokus pada pengurangan limbah dan efisiensi sumber daya.
Pada tahun 2015, seluruh negara anggota PBB mengadopsi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagai bagian dari Agenda 2030 — sebuah seruan universal untuk bertindak mengakhiri kemiskinan, melindungi bumi, dan memastikan semua orang menikmati perdamaian dan kemakmuran pada tahun 2030.
Apa itu SDGs? Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah agenda pembangunan global yang disepakati oleh 193 negara anggota PBB pada September 2015. SDGs terdiri dari 17 tujuan utama dengan 169 target yang harus dicapai pada tahun 2030.
SDGs dirancang sebagai blueprint bersama untuk masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua. Tujuan-tujuan ini saling berkaitan dan mengakui bahwa tindakan di satu bidang akan mempengaruhi hasil di bidang lain, sehingga pembangunan harus menyeimbangkan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Proyek ini berfokus pada SDG 12 — Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab — yang disorot di bawah ini dalam grid 17 tujuan.
Volume sampah nasional Indonesia mencapai 175,7 juta ton per tahun menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lebih dari 30% sampah tersebut tidak terkelola dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan, termasuk sungai dan laut.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). https://sipsn.menlhk.go.id/
Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia, setelah China. Diperkirakan sekitar 1,29 juta ton plastik dari Indonesia masuk ke lautan setiap tahunnya. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya pencapaian SDG 12 terkait pengurangan limbah.
Jambeck, J. R., et al. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science, 347(6223), 768–771. https://doi.org/10.1126/science.1260352
Hampir setengah dari total sampah di Indonesia adalah sisa makanan (food waste). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat bahwa Indonesia menghasilkan 23–48 juta ton food waste per tahun, setara dengan kerugian ekonomi senilai Rp 213–551 triliun. Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pembuang makanan terbesar di dunia.
Bappenas. (2021). Kajian sektor pertanian: Peta jalan pengurangan susut dan sisa pangan di Indonesia 2020–2024. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. https://www.bappenas.go.id/
Tingkat daur ulang sampah di Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 4,6% dari total sampah yang dihasilkan. Padahal target pemerintah melalui Jakstranas Pengelolaan Sampah adalah pengurangan 30% dan penanganan 70% sampah pada tahun 2025. Kesenjangan ini menunjukkan masih minimnya infrastruktur dan kesadaran daur ulang di Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2022). Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. https://www.menlhk.go.id/
Sektor industri dan manufaktur Indonesia membuang hingga 55% energi secara sia-sia akibat inefisiensi proses produksi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mencatat bahwa penerapan prinsip produksi bersih dan efisiensi energi berpotensi mengurangi biaya industri nasional hingga 20–30%, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. (2022). Outlook energi Indonesia 2022. BPPT. https://www.bppt.go.id/
SDG 12 memiliki 11 target utama. Dua target di bawah ini dipilih sebagai fokus proyek ini berdasarkan relevansinya dengan konteks sekolah dan komunitas di Indonesia.
Pada tahun 2030, mengurangi separuh limbah pangan per kapita global di tingkat ritel dan konsumen, serta mengurangi kerugian pangan di sepanjang rantai produksi dan pasokan termasuk kerugian pascapanen.
✦ Dipilih untuk ProyekPada tahun 2030, secara substansial mengurangi produksi limbah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali.
✦ Dipilih untuk ProyekMelaksanakan Kerangka Program 10 Tahun tentang Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan dengan negara maju memimpin upaya tersebut.
Pada tahun 2030, mencapai pengelolaan berkelanjutan dan penggunaan secara efisien sumber daya alam.
Pada tahun 2020, mencapai pengelolaan bahan kimia dan semua jenis limbah yang ramah lingkungan sepanjang siklus hidup mereka.
Mendorong perusahaan, terutama perusahaan besar dan transnasional, untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan dan mengintegrasikan informasi keberlanjutan ke dalam siklus pelaporan mereka.
Berdasarkan konteks Indonesia · Target 12.3 & Target 12.5
Halaman ini akan berisi analisis 4W1H (Siapa, Mengapa, Bagaimana, Apa, Di mana), data penelitian lapangan, transkrip wawancara, dan lembar kerja Research with Empathy.
Halaman ini akan berisi mind map lengkap yang menggambarkan semua aspek masalah dan solusi potensial terkait SDG 12 dalam konteks sekolah.
Halaman ini akan berisi starburst analysis (4W1H), LEAN Canvas, dan detail desain solusi yang dikembangkan untuk mengatasi masalah konsumsi dan produksi di lingkungan sekolah.
Halaman ini akan berisi hasil pengujian prototipe, umpan balik yang diterima, analisis PMI (Plus, Minus, Improvement), dan video presentasi solusi final.
Halaman ini akan berisi lembar kerja refleksi lengkap yang mengevaluasi proses pembelajaran, pencapaian, dan pelajaran yang dipetik sepanjang proyek STEM ini.